Monday, February 11, 2008

Belajarlah Memberi

Semoga bisa jadi inspirasi buat kita semua untuk selalu memberi.

BELAJARLAH MEMBERI
Vitachan - Shizuoka

Kemarin sore tiba-tiba saya diberi kejutan kecil. Orang tua asuh saya membawa beras satu bungkus isi 10 kg dan memberikannya pada saya, tepat ketika saya hendak membeli beras karena persediaan di rumah saya habis.Hehe.. rejeki nomplok, pikir saya.Karena sangat senang, saya kirim sms pada kakak perempuan di Indonesia danmenceritakan kejadian ini. "Kok PAS, ya., pas butuh pas ada." Tulis sayapada kakak saya. Kakak saya lalu bercerita, tadi pagi ibu saya memanggil tukang becak tua yg lewat didepan rumah kami, dan memberinya makan satu piring nasi.Kakak saya heran, dalam rangka apa ibu saya tiba-tiba memberi makan tukang becak itu. Kata ibu saya, "Biar anak mami yg jauh ga kekurangan makan."Kakak saya bilang, mungkin maksud ibu itu adalah saya yg tinggal jauh dinegeri orang. Kontan, sorenya saya dapet beras 10kg. Waduh.balasannya kok ga sebanding yah, sepiring nasi dengan sekarung beras. Hehe..lumayan.

Kejadian ini mengingatkan saya pada kejadian 20 tahun lalu. Suatu hari dipermulaan musim kemarau ketika saya masih duduk di kelas 3 atau 4 SekolahDasar di Bandung, ada penggalian tanah di sepanjang jalan depan rumah orang tua saya untuk pemasangan kabel telpon. Semua tukang gali jumlahnyakira-kira 20 orang. Pekerjaan memakan waktu kurang lebih 10 hari. Pekerjaanini menarik perhatian saya, terutama kabel-kabel ukuran besar yg nantinyaakan ditanam dalam galian itu. Hari pertama penggalian dimulai, matahari bersinar sangat terik. Para pekerja yg kelelahan berhenti sejenak dari pekerjaannya sambil beberapakali mengusap keringat diwajahnya. Mereka terlihat kehausan karena bekal air yg mereka bawa telah habis. Ibu saya yang melihat ini tanpa banyak bicara membawa teko air besar dan menawarkan minuman teh dingin pada mereka. Spontan mereka menerima dan meminum teh buatan ibu saya dgngembiranya. Karena mereka jumlahnya banyak, ibu saya sampai 3 kali mengisi teko itu.

Ternyata hari-hari berikutnya pun ibu saya tidak berhenti menyediakan tekoair di depan rumah untuk para tukang gali itu. Bahkan bisa sampai 5 kalidalam sehari ibu bolak balik mengisi teko besar itu dengan air teh. Jika ada makanan ringan seperti pisang rebus, atau kue-kue kecil lainnya, ibusaya jg menyuguhkannya. Saya pernah bertanya, "Kenapa ibu saja yg memberiair minum pada mereka? Tetangga-tetangga lainnya pun tidak". Ibu saya hanyamenjawab singkat, "Kasihan", katanya. Sampai ketika pekerjaan galian ituselesai, salah seorang tukang gali berkata "Terimakasih Bu, mulai hari ini tidak usah sediakan air lagi, kami akan pindah ke tempat lain," katanya sambil pamit pada ibu saya.

Hari-hari berlalu sampai tiba pada pertengahan musim kemarau. Musim kemarau pada tahun itu katanya adalah musim kemarau panjang dan sangat panasdibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak seperti air di sumur-sumur tetanggadi komplek rumah kami yang mengering, air sumur kami justru melimpah ruah.Ini ajaib. Padahal tetangga kiri kanan rumah ibu saya memasang jet pump yg besar, sedangkan kami hanya memakai pompa Sanyo berkekuatan kecil. Logikanya air tanah di rumah kami akan tersedot oleh tetangga kami itu.Tapi kenyataannya adalah ibu saya membagi-bagikan air pada tetangga sebelah menggunakan selang panjang melewati tembok penghalang rumah.Semua tetangga di kompleks kami membeli air dengan jirigen-jirigen besaruntuk keperluan mandi dan mencuci setiap harinya. Hanya keluarga kami yangtidak kekurangan air sedikitpun melewati musim kering yg panjang dan panaspada saat itu.

Ketika saya bertanya pada ibu, "Kenapa air sumur di rumahkita tidak kering?", ibu saya menggelengkan kepala, sambil berkata lirih,"Apa mungkin ini imbalan dari Tuhan karena memberi minum tukang-tukang galiyg kehausan itu kemarin dulu?" Tidak ada seorang pun diantara kami yg tahu.

Sama seperti seorang guru, semakin banyak mengajar, semakin pintarlah ia.Maka praktek memberi yg diajarkan ibu saya juga berlawanan dengan rumusmatematika yg diajarkan disekolah. Satu dikurang satu di mana-mana ya samadengan NOL. Tapi ibu saya ajaib, satu dikurang satu bisa jadi dua, bisajuga tiga, atau bahkan sepuluh. Weleh, weleh...

No comments: